Pages

Tuesday, October 27, 2015

#BananaPancakeTrip Part 2: Hai, Ho Chi Minh City!

Huayoooo.. Pada nungguin kelanjutan cerita #BananaPancakeTrip gue yaaaaa? Kezel ya di PHP-in, bilangnya mau dilanjutin minggu depan ga taunya lama. Hahahaha.
Sebenernya di general itinerary yang gue post kemaren, day 1-nya itu dimulai tanggal 12 Agustus 2015. Tapi berhubung hari Rabu itu isinya cuma transit di Changi Airport doang, jadi ceritanya digabung aja sama hari Kamis di Ho Chi Minh City ya..


Kami berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta naik JetStar tujuan Ho Chi Minh City via Singapore jam 21.35. Ini artinya, kami akan transit di Bandara Internasional Changi selama beberapa jam sebelum naik pesawat lagi dari Singapore ke Vietnam jam tujuh keesokan paginya.

Jadi enam jam di bandara, nih? Iya betul! Hahahaha.. Jangan sedih, enam jam nya di Changi kok. Gue sih nggak keberatan 12 jam di Changi juga :p. Kenapa? Karena di Changi yang merupakan airport terbaik di dunia, lo bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang oke dan banyak yang gratis! Wifi gratis? Check. Tempat bobok yang enak dan nyaman? Check. Mushola? Check. Kursi pijet (ini penting!), WC jongkok beserta semprotan ceboknya (buat yang ngga suka sama kloset duduk dan wajib beristinja kayak gue), playground bocah? Check, check, check!! Mau belanja? Bisa. Nuker duit? Bisaaa! Mau makan pun bebas milih, asal jangan lupa bayar :p. Duh sayangnya Changi bukan kos-kosan bulanan ya, betah aku di siniiii.

Hari Kamis pagi, kami naik pesawat menuju Saigon alias Ho Chi Minh City (Samimawon, pemirso.. Akupun tadinya bingung, ini sebenernya Ho Chi Minh apa Saigon ya? Ternyata same-same, sami, podo wae! Katanya, dulunya memang disebut Saigon, kemudian di tahun 1975 diubah menjadi Ho Chi Minh City yang diambil dari nama Pemimpin Vietnam yaitu Ho Chi Minh. Meskipun demikian, penyebutan nama Saigon juga masih banyak digunakan sampai sekarang).

Jam 8.15 pagi, kami disambut oleh matahari terik di Ho Chi Minh City. Keluar dari imigrasi Bandara Tan Son Nhat, kami mulai celingak-celinguk mencari orang untuk ditanya. Sengaja nyarinya yang di dalem terminal kedatangan aja, karena parno takutnya kalo nanya di luar nanti dikibulin sama supir taksi (kebiasaan kan, di Indonesia banyak yang kayak gitu di bandaranya). Tujuan pertama kami adalah Phạm Ngũ Lão Street di District 1. Mau ngapain? Mau nyari travel yang jual tiket bus malam menuju Phnom Penh hari itu juga. Sebenernya bisa sih, ngga usah repot-repot nyari orang buat ditanya, buka google maps aja (ada yang mau bilang gitu, ngga?). Pas lagi transit di Changi, gue udah nyimpen map offline buat bekal (setidaknya) dari bandara sampe ke Phạm Ngũ Lão. Tapi apa daya.... hurufnya bertopi dan berjenggot semua, takutnya salah :(

Akhirnya berhasil nemu tourist information, dan minta ditunjukin gimana cara ke Phạm Ngũ Lão. Mbak cantik di tourist information-nya ngasih selembar tourist map terus nunjukin posisi tujuan kami. Dia bilang, bisa naik bus nomor 152 ke Ben Tanh Station dengan biaya VND 5000 per orang atau naik taksi dengan biaya yang lebih mahal (lupa gue berapa) tapi lebih cepet karena ngga muter-muter. Sebagai manusia paling medit berjiwa petualang diantara peserta #BananaPancakeTrip lainnya, tentunya gue memilih naik bus doong.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Waktu kami keluar, udah ada dua bus nomor 152 yang lagi parkir nunggu penumpang. 
Bus No. 152

bayarnya harusnya VND 5000

Nggak lama, ada beberapa penumpang lain yang dateng: segerombolan turis Cina dan tiga orang cewek dari Indonesia. Trus supirnya dateng, dan kami ngasih tau tujuan kami yang ternyata sama: Phạm Ngũ Lão. Berbekal informasi dari mbak-mbak information di bandara, kami udah siapin duit VND 5000 per orang, eh si supirnya malah nodong VND 10000 per orang. Hellooooow! Yu pikir ay bisa dibodohi, itu di pintu bus ada tulisannya 5000 Dong! Trus supirnya kekeuh dan kamipun tak berdaya karena duit gue pecahan 100000 Dong, ga bisa ngasih uang pas. Yaudah, diikhlasin aja lah ya.. Tapi abis itu kopernya gue taro di kursi penumpang, jadi gue ambil tempat buat dua orang. Ha!

Sepanjang perjalanan, gue agak kampring terkaget-kaget ngeliat palu arit dimana-mana. Maklum, sisa didikan orde baru yang mengharamkan palu arit dan komunisme.


Sebagaimana di Indonesia, Ho Chi Minh City juga banyak pengendara motornya. Yang menurut gue lucu adalah helm mereka, ngga SNI banget! Eh ya iyalah ya, mungkin mereka pakenya SNV.
helm standard Vietnam, bukan helm proyek ya!
Ho Chi Minh City juga lagi banyak membangun ya kayaknya. Gue berasa di Jakarta deh liat ada crane dimana-mana. Mungkin mereka juga ceritanya lagi mau bikin MRT :p



Jadi, rupanya Phạm Ngũ Lão Street ini daerah turis. Maksudnya, di jalan itu banyak hostel dan travel agent yang banyak dicari sama turis (macem gue-- ciyee turis!). Setelah di turunin di halte terdekat dari Phạm Ngũ Lão (gue lupa nama jalannya), kata supirnya kita tinggal jalan aja terus. Terus kemana? Nggak tau hahaha, supirnya cuma bilang gitu dan langsung cus bersama bus 152 nya. Akhirnya kami memutuskan buat jalan kaki sambil geret-geret koper buat nyari Lac Hong Tours yang katanya menyediakan sleeper bus buat ke Phnom Penh. Sembari nyari, ternyata di jalan yang kami lalui banyak juga agen tur, jadi kami coba tanya-tanya juga. Ternyata, kebanyakan tour menyediakan bus ke Phnom Penh terakhir jam lima sore. Gue mikirnya, kalo jalan jam lima sore, terus nyampe perbatasannya jam berapa? Emang masih buka? Kalo udah tutup kan yang ada kita harus nunggu lebih lama lagi.

Baru tiga agen yang ditanya, terus gue udah ga bisa mikir karena haus! Akhirnya mampir deh di Circle K terdekat. Sekalian numpang wifi gratis buat buka maps (hidup fakir wifi!). Trus karena ngikutin direction dari google maps, jadinya malah muter, padahal ada jalan yang lebih deket -.-". Setelah geret koper (sambil merhatiin nomer gedung) selama 15 menitan, akhirnya sampailah kami di 355 Phạm Ngũ Lão Street. Eh tapi kok bentuknya nggak kaya travel agent? Jangan-jangan udah gulung tikar nih agennya! Males nanya juga, karena di depannya ada seekor anjing liar, hmm cari yang lain aja deh. Alhamdulillah, ga jauh dari situ ada travel agent  yang di atasnya ada hotel.


Kami masuk dan Miun coba tanya-tanya. Oh iya, selama perjalanan, kami udah bagi tugas: gue yang bagian mikir (mikirin rute, mikirin duit, mikirin makan), Miun bagian juru bicara (nanya jalan, nego harga, dan email-emailan sama hostel dan supir tuktuk :p), Minul bagian pembantu umum (bantu mikir, bantu angkut, dan bantu ngomong. Haha!). Kami minta dicariin bus apapun menuju Phnom Penh yang berangkat tengah malam, reclining seat, dan harganya sekitar 15 USD. Alhamdulillah, mereka berhasil nemuin sleeper bus yang berangkat jam 23.45 malam itu dengan harga sesuai budget, dan "katanya" karena ini sleeper bus tentu saja kursinya posisi bobok. Wuih lega dong udah dapet transportasi buat nyebrang negara. Setelah nitip barang bawaan, sekarang saatnya keliling kota dan cari makaaaan!

Soal makan, sebenernya gue ngga terlalu ribet karena pada dasarnya toh gue emang nggak mengkonsumsi daging merah. Jadi ngga susah lah, ya, yang penting baca Bismillah! Tapi karena gue jalannya sama dua orang berhijab, jelas aja jadi harus lebih hati-hati soal makanan. Sebisa mungkin cari yang beneran halal.
Cari makanan halal di negara yang penduduk islamnya bukan mayoritas, jelas ngga gampang. Tapi common sense aja, kalo ada masjid, pasti di deket situ ada yang jualan makanan halal. Ya, kan? Jadi, kami memutuskan buat cari masjid terdekat. Kata orang dari travel tadi, mesjidnya ngga terlalu jauh. Jadi kami memutukan untuk jalan kaki, sambil liat-liat kota Ho Chi Minh. Ciyeee backpacker banget nih hobinya jalan kaki.

Sambil jalan menuju masjid, kami menyusuri taman di wilayah Pham Ngu Lao. Namanya September 23 Park yang dibangun tanggal 23  September (masa sih?!) 2002 sebagai area terbuka hijau untuk warga kota Ho Chi Minh. Areanya lumayan luas, sepanjang jalan Pham Ngu Lao sampe ke Ben Tanh Market. Seneng deh, ada taman ijo gede di tengah kota. Berasa di Central Park, gitu (Jakarta Barat, ya. Bukan yang di Nuyok!). Ada apaan aja? Ada pohon, semak-semak, kursi, dan (ini penting) Toilet Umum permanen, bukan yang bisa dipindah-pindahin ya, itu sih geuleuh gue makenya. Ini bangunan toiletnya dari bata, ga bisa dipindah-pindahin, bersih, .....tapi ngga ada bidetnya alias WC bule banget! Tau kan, kloset-duduk-tapi-ga-ada-semprotan-ceboknya kind of closet. Thanks to  botol air mineral bekas, semua amaaan. Hahahaha

toilet umum yang tadinya gue kira pos satpam
Di deket taman itu, ternyata ada sebuah restoran halal. Tadinya mau makan di situ aja, tapi pas liat harganya eh kok jauh di atas budget sekali makan ya. Akhirnya sok-sok nanya jalan ke mesjid aja biar ngga tengsin udah liat-liat menu.Terus ditunjukin lah, katanya mesjidnya ada tepat di sebelah  Sheraton Hotel, salah satu gedung tinggi (yang keliatannya) deket situ.

Ternyataaaa......ngga sedeket itu pemirsa!
Kami harus mendaki gunung lewati lembah melalui jalan yang berliku-liku. Alhamdulillahnya, di Ho Chi Minh City bertebaran Circle K. Jadi, setiap kali merasa lelah dan hilang arah tinggal mampir, beli air minum sekalian pake wifi gratis buat ngecek google maps :))

Setelah melewati foto-foto di beberapa tempat seperti..

Patung Ho Chi Minh di depan gedung DPR-nya Saigon (CMIIW)
photo credit: Meera

photo credit: Meera
 Saigon Opera House..
The Municipal Theatre of Ho Chi Minh City

Akhirnya sampe juga! Alhamdulillaaaaaah 
Saigon Central Mosque 66 Đông Du, Bến Nghé, Hồ Chí Minh, Vietnam
Di sekitar masjid ternyaata ada banyak banget restoran halal, tapi sayangnya harga makanannya di luar budget gue. Budget sekali makan gue cuma bisa buat  beli minum di restoran-restoran itu. Baiklah. Mari kita cari restoran yang jelas ga jual babi, ada nasi-nya (buat dimakan bareng abon dan kering kentang bekal dari Jakarta) dan harganya murah: KFC! Hahahahaha!

Setelah mengisi energi di KFC (dan beli bekal buat di perjalanan ke phnom Penh malamnya), kami meneruskan jalan-jalan keliling district 1. Tujuannya adalah mengunjungi sebanyak mungkin torist attraction di district 1 sebelum gelap.
Saigon Central Post Office

Saigon Central Post Office
Saigon Notre Dame Cathederal
Independent Palace
Sayangnya, karena udah jam empat sore, Post Office dan Independent Palace nya tutup. Akhirnya cuma bisa foto-foto di depannya aja. Lumayan lah ya, daripada lumanyun.

Dari Independent Palace, kami mampir dulu ke Ben Tanh Market. Ngapain? Beli oleh-oleh dong yaaaa hahaha. Ngga deng. Ngga beli oleh-oleh karena sebenernya gue nggak punya budget buat beli-beli. Tapi berhubug ternyata Independent Palace nya tutup, jadi budget tiket masuk Independen Palace bisa dipake buat beli Magnet kulkas Vietnam buat nyokap dan pembatas buku. Yay! Btw, pas baru masuk Ben Tanh Market, kami langsung disapa "Silakan, Bundaaa.. Ditengok dulu bisa..". KZL nggak sih? Jauh-jauh ke Ben Tanh Market, rasanya kayak di Tanah Abang aja, gitu. Udah gitu, ada satu kios yang jualan gantungan kunci/tas/kipas souvenir vietnam, nawarin pake harga Rupiah tapi bayarnya pake Dong (jadi dia ngasih harga nih, misalnya 5000 VND, trus dia akan ngasih kalkulator bertuliskan harganya dalam rupiah), ZBL yaa Tenabang banget. Kirain Vietnam termasuk salah satu negara Asia yang jarang didatengin sama turis Indonesia, ternyata.....

Dari Ben Tanh Market, udah lodoh baget lah ya seharian jalan kaki keliling ditrict 1. Akhirnya kami memutuskan buat naik bis aja untuk balik ke travel agent di Pham Ngu Lao. Kebetulan terminal bus nya juga ga jauh dari Ben Tanh Market, cuma perlu nyeberang jalan dan menghindari serbuan motor dan mobil yang sruntulan di jalan* aja.

Di terminal, skill bahasa tarzan kembali dikeluarkan demi minta petunjuk bus mana yang bisa kami naiki sampe ke Pham Ngu Lao. Alhamdulillah, orang baik ada dimana-mana. Walaupun Bahasa Inggris mereka sangat terbatas, tapi keinginan buat ngebantu dua cewek berwajah Melayu dan satu cewek berwajah lokal (ha!) rupanya cukup besar. Seorang petugas di terminal menunjuk Bus no 53 yang katanya akan sampe pas di depan travel agent kami. Rupanya, di seberang travel agent kami ada terminal pemberhentian terakhir untuk bus. Alhamdulillah, nggak perlu jalan jauh.

Sambil menunggu malam (katanya, kami akan dijemput sama Bus menuju Phnom Penh di depan travel agent pada jam 11 malam), kami bertiga nongkrong dulu lah di Circle K. Hahahaha.. Dari jam lima sampe jam setengah sembilan malam. Ngapain aja di Circle K? Ya upload foto ke social media dong! Hahaha.. Sekalian memastikan tempat-tempat apa aja yang akan kami kunjungi di Phnom Penh, dan booking hostel di Siem Reap dan....jajan-bayar-jajan-bayar (iya lah! Tiga jam lebih di situ kebayang dong berapa kali jajannya?).

 Jam setengah sembilan, kami kembali ke travel agent  tempat kami beli tiket bus tadi siang. Karena mereka cuma buka sampai jam lima sore, jadi tas dan barang-barang yang kami titipkan, mereka pindahkan ke ho(s?)tel yang berada tepat di atasnya. Kami diperbolehkan menunggu di lobby ho(s?)tel tersebut sampai bus kami datang menjemput. Nah, kan namanya juga backpacker kere ya. Dikasih lobby buat nunggu, ngelunjak numpang mandi. Hahahaha. Eh gue nggak mandi deng, tapi numpang pup aja dikit... dan cuci muka... dan sikat gigi hehehe. Ngga sekalian mandi? Ngga deh, semprot-semprot parfum aja. Soalnya kalo mandi, berarti gue harus ganti baju, berarti harus ngeluarin baju dari dalam tas, dan berarti harus bongkar muatan. Males lah, ribet antara jorok sama ribet tipis yee.

Jam sebelas malam, ada seorang mas-mas (eh kalo mas-mas Vietnam sebutannya apa, ya?) yang menjemput kami. Kami diajak ke.....depan circle K tempat nongkrong kami tadi! Yahelah.. Ternyata, kantor  busnya di situ: di teras warnet! Kami bertiga adalah penumpang pertama yang sampai di situ. Pas sampai, kami langsung diminta mengisi data diri di buku absen (?) dan dibagikan kartu embarkasi untuk di perbatasan Vietnam-Cambodia. Ngga berapa lama, datanglah bule-bule lainnya yang bawa ransel guede-guede. Wah ini nih baru backpacker beneran.. Beberapa di antara mereka, si bule-bule cewe ini kayaknya agak setengah mabok. Nyanyiiiiiiiiiiiiii mulu, ngga tau apa yang dinyanyiin.

Setelah semua penumpang bus nya melengkapi kartu embarkasi dan membayarkan uang visa ke si mas-mas (yang kayaknya) kernet bus lintas negara ini, akhirnya kami dipersilakan buat masuk ke bus Kampuchea-Angkor Express yang ternyata.........
.......
.......
Ternyata apa hayo?
Nantikan kelanjutannya di postingan berikutnya!! Sabar ya.. Karena sesungguhnya orang sabar itu jidatnya lebar. Dan orang yang jidatnya lebar, berarti hokinya gede! Liat aja tuh ikan lohan, makin lebar jidatnya, makin mahal 😝

Cupcupmuah,
R





*Aseliiiik, jalanan di Ho Chi Minh City ganas banget! Gue beberapa kali hampir ketabrak pas nyebrang jalan, padahal gue udah ngikutin lampu lalu lintas 😭

Monday, September 28, 2015

#BananaPancakeTrip Part 1: Pendahuluan

Sebulan yang lalu, di bulan Agustus, gue abis jalan-jalan kere hore ke beberapa negara di Asia Tenggara. Perjalanannya sendiri udah gue impikan sejak akhir 2013 sebenernya, tapi karena satu dan lain hal (baca: ngga punya duit dan urusan si tujuh huruf yang gak beres-beres) akhirnya baru beneran serius dibikin plan-nya di 2014 dan berangkat di tahun 2015. Panjang dan lama, ya, ngalah-ngalahin persiapan kawinan.

Awalnya, rencananya emang mau solo backpacking ceritanya. Kenapa solo? Karena menurut gue, jalan sendiri lebih ngga ribet. Eh, ya, mungkin ribet, tapi ribetnya sendiri aja gitu. Ngga ngeribetin orang lain. Pusing juga nantinya ya pusing sendiri aja, nggak musingin orang lain. Intinya sih emang males ribet (dan diribetin orang) aja sik, hehehe.. Setelah gugling sana-sini, akhirnya diputuskan destinasinya di Asia aja.
Kenapa Asia? Ya karena belom mampu buat keliling Eropa hahaha. Yaa kalaupun duitnya cukup buat ngebiayain backpackin ke Eropa, tapi tabungan buat jaminan bikin visanya kayanya juga ngga cukup -.-“ Akhirnya tekad semakin bulat buat Asia aja deh, Asia Tenggara lebih tepatnya. Rutenya menelusuri Banana Pancake Trail.
Jangka waktu? Paling lama 20 hari deh. Lebih dari itu, kayaknya pulang-pulang gue makan nasi aking setiap hari di Indonesia.

Di pertengahan 2014, salah satu maskapai penerbangan lagi gelar promo tiket murah abis-abisan. Temen gue, Miun, yang ngasih tau soal promonya. Trus gue jadi cerita soal rencana gue buat solo backpacking. Ternyata dia tertarik pengen ikutan, ya gue ajakin aja.
Yang tadinya mikir “Ribet ah kalo bareng sama orag lain” berubah jadi “Ah kalo ada temen, kan, ntar kalo bego nggak sendirian, dan akhirnya malah ngajak Kak Sasti dan Minul Sepupu Gaul buat ikutan juga. Tadaaaaa.. Jadi rame deh, hahaha.

Setelah liat-liat harga tiket (PROMO - harus ditekankan kalo ini tiketnya promo, ya! Biar gue ga dituduh tajir melintir, trus abis itu dipalakin dan dipajakin macem-macem) dan rute yang ada, akhirnya gue bikin itinerary lengkap dengan perkiraan biaya yang harus dikeluarkan. Berhubung sini anaknya rada perfeksionis dan banci atur ya, jadi belom apa-apa udah detail banget mau apa dan gimana.
Alhamdulillah banyak blogger baik hati yang bersedia membagi ceritanya di blog, jadi bisa dijadiin contekan :D. Gue banyak nyontek dari sini, sini, dan sini.

General Itinerary

Setelah melalui pemikiran yang panjang, diputuskan perjalanan akan berlangsung selama sepuluh hari (diskon 50% dari rencana awal 20 hari ya), lima negara, dan delapan kota*. Dimulai dari tanggal 12-22 Agustus 2015 dengan rute: Jakarta -Ho Chi Minh City - Phnom Penh - Siem Reap - Bangkok - Phuket - Singapore - Johor Bahru - Kuala Lumpur - Jakarta.

Setelah semua pihak setuju sama itinerary yang gue buat, dimulailah pemesanan tiketnya. Alhamdulillah berhasil dapet tiket untuk empat penerbangan (buat menggantikan perjalanan darat yang jarak tempuhnya lebih dari tujuh jam).Eits, tapi belum bisa girang, karena gue belom berhasil dapet tiket Jakarta-Vietnamnya.

Gue pikir, "Gue punya waktu sekitar setahunan buat nabung sambil nyari-nyari tiket murah dari Jakarta ke Vietnam" 

Kenyataannya?
Gue baru nemu tiket ke HCMC tiga bulan sebelum keberangkatan dan baru mulai nabung setelah itu. Huahahahaha..

Beli tiket buat tempat-tempat yang akan dikunjungi?
Tiga minggu sebelum keberangkatan. 

Booking Hostel?
Seminggu sebelum berangkat. Huahahhahaah..

Padahal di awal bilangnya perfeksionis dan banci atur ya. Ujung-ujungnya beli last minute aja, sisteer! Alhamdulillah semua harganya masih wajar**.

Posting berikutnya Insya Allah udah mulai cerita soal perjalanannya yaa.. Nantikan! Minggu depan!***

Cupcupmuah,
R



* Itinerary lengkap akan gue upload ya
** Budget lengkap juga akan gue upload nanti
*** Or minggu depannya lagi. Kalo nggak males, kalo nggak sibuk sama arisan berlian atau apapunlah :p, dan kalo udah berhasil milih foto yang appropriate buat dipajang di sini :))

Tuesday, May 05, 2015

Hiatus? Blog Baru?

Hola!
Setelah diliat-liat, hampir setahun gue nggak nulis di blog. Tadinya mau di-hiatus-kan dalam rangka mau revamp blog secara keseluruhan, baik design maupun contentnya, ternyata (lagi-lagi) hanya tinggal angan-angan belaka. Alasan klise kayak "mau mulai dari mana", "gimana", dan "apa" kembali jadi penghambat. Ujung-ujungnya? Ya jadi males kaya sekarang ini.

Bulan depan, blog ini akan ulang tahun yang ke sembilan. Jumlah  postingannya? Cuma seiprit. Ditutup aja? Bikin baru aja? Nggak deh. Menutup dan membuat blog baru emang jalan pintas paling gampang, sih. Anggep aja mulai dari awal lagi. Tapi kalo ujung-ujungnya males, ya sama aja kan, ya?

Sebenernya ada beberapa tulisan yang udah kesimpen lama tapi ngga gue publish dengan alasan: "Yaelah, emang siapa yang mau baca kaya ginian?" dan akhirnya ya cuma jadi draft aja . Tuh kan, udah males, nggak pedean pula. Kapan mau majunya, Ria?


Nah. Jadi keliatan kan masalah yang sebenernya bukan karena nggak tau "mau nulis apa", "gimana nulisnya", atau "mulai dari mana". Tapi karena malas dan nggak pede.
Solusinya (harusnya) jadi gampang, kan? Tinggal tulis aja apapun yang mau gue tulis. Anggep aja ngga ada yang baca, kayak 9 tahun yang lalu waktu baru pertama kali bikin blog.  Kalo soal malasnya, yaaa susah ya emang ngebunuh sifat malas. Disemprot baygon ga mempan, ditusuk pisau juga kebal. Bisanya dikurangin dikit-dikit kali yaa..

Jadi, gue mohon doanya (lagi). Kali ini mungkin doanya kudu lebih kenceng dan lebih khusyuk :p supaya gue nggak males lagi dan rajin ngeblog lagi :D

-R-

Monday, June 23, 2014

PIL (Presiden Idaman Lain)

Nah kan, bulan Juninya udah mau kelar, tapi belom posting apapun di bulan ini :p

Beberapa waktu yang lalu kan gue bikin posting tentang pemilu legislatif, ya. Tadinya niatnya buat pemilu capres Juli ini, gue juga mau bikin posting khusus. Tapi setelah liat buanyaaaaak banget orang yang berkomentar soal capres-capres ini, trus gue jadi males ikut-ikutan (alesaaaaaan padahal emang ga sempet aja).

Eh tapi beneran deh, coba lo buka facebook, isinya semua orang lagi ngomentarin soal capres dan cawapres. Seneng sih, paling ngga mereka terlihat ngga apatis sama nasib bangsa :D. Sebelnya? Ya sebel aja bacanya kalo orang-orang ini (baca: temen-temen di facebook) kalo lagi ngebela calon favoritnya, kayanya ngga bisa kalo ngga ngejatohin calon yang lainnya. Hih kesel. Ya iya sih, mereka berdalih tidak melakukan black campaign melainkan negative campaign, tapi kan bisa dong ga usah gitu-gitu amat.

Terus, apakah gue udah menentukan pilihan atau belom?
Belom.

Hehehe..
Ya abisan bingung, belom ada yang pas di hati *tsahilaaaah*. Kalo mau diliat-liat pake kriteria gue sih, kayanya dua-duanya ngga ada yang memenuhi. Jadi, sekarang ga usah pake pemenuhan kriteria lagi lah. Cari yang keburukannya lebih sedikit aja deh. Kalo bahasanya Widya, "yang mending daripada" :)))

Oh iya, selama masa kampanye ini, ada beberapa tokoh favorit gue yang udah menentukan sikap dan dukungannya pada capres tertentu. Apakah ini mempengaruhi pilihan gue? Iya dan tidak.
Loh kok iya dan tidak? Iya, gue jadikan alasan mereka untuk mendukung salah satu capres sebagai bahan pertimbangan gue (bahan pertimbangan loh ya). Tidak, gue ngga semata-mata mendukung capres tertentu cuma karena gue suka sama si tokoh pendukungnya.

Yang jelas, gue ngga akan memilih seorang calon presiden hanya karena dia ganteng. Kalo gue milih presiden pake pertimbangan ketampanan, gue akan nyuruh Mario Lawalatta buat maju jadi presiden. Paham kamu? :p
Gue juga ngga akan ngga-milih salah satu capres cuma gara-gara status pernikahannya. Aduh, itu kan masalah rumah tangga orang ya, jodohnya orang kan beda-beda jadi ga usahlah dibawa-bawa. Jodohku aja belom pernah dibawa ke rumah. Cih! *Lah malah curhaaaat* :)))

Tuh kan malah ngelantur. Udah ah. Pokoknya jangan lupa buat cari informasi sebanyak-banyaknya tentang caon presiden idaman kamu ya! ;)

Cupcupmuah,
 R

P.S: Demi ketentraman hati yang punya blog, box comment untuk post yang ini gue tutup ya. Abis suka ada oknum yang memanfaatkan posting macem ini buat kampanye.

Sunday, May 18, 2014

We Love A.B.C

Hola!
Beberapa waktu yang lalu, gw ngobrol sama temen lama dari Bandung, sebut saja Dudung (kalo gue sebutin nama sebenarnya, nanti blog gue rame dikomenin sama cewek-cewek Bandung grupisnya dia). Si Dudung ini adalah salah satu sumber influence (tsah, bahasa gue influence, macem musisi ibukota yang lagi ditanya inspirasinya dari mana) musik gue selain radio kawula muda itu, tentunya.

Setelah ngobrol basa-basi, sampailah si Dudung ke petanyaan, "Jadi, lo sekarang dengerinnya apa?". JRENG! Kelabakan deh gue jawabnya. Bisa, sih, ngeles pake jawaban "Kalo gue, sih, sekarang dengerin kata hati aja. Walaupun belum tentu bener, tapi udah pasti jujur.." tapi abis itu pasti langsung dicap kebanyakan nonton sinetron. Puih! Akhirnya ya gue jawab jujur, deh. "Gue sekarang dengerinnya Top 40 doang sik, ama... k-pop dikit-dikit.." (bagian K-pop nya suaranya pelan).

Trus si Dudung ini ngakak abis-abisan. Dia nggak percaya kalo sekarang aliran musik gue "melenceng" (ini bahasanya dia, loh, melenceng). Menurut dia, tampang kaya gue ngga ada pantes-pantesnya dengerin K-Pop. Menurut dia, sejauh-jauhnya gue melenceng, paling pol itu dengerinnya U*gu. Punten yak, tanpa bermaksud merendahkan musik dan fansnya band tersebut.. ini si Dudung yang ngomong! HIH! Kampret amat sih. Gue bales pake kalimat "Selera musik orang kan orbitnya ga berpusat sama elu!".

FYI, si Dudung ini akrab sama musik-musik indie. Dia yang ngenalin gue sama Pure Saturday, Cherry Bombshell, The Milo, dll. Dulu sih gue diajak nontonin mereka manggung nurut-nurut aja, padahal tau musiknya juga ngga. Tapi yaa lama-lama nagih minta diajak mulu. Hahaha..

Anyway, gara-gara obrolan sama Dudung tempo hari, pagi ini gue jadi rada niat nyari update playlist gue yang tadinya isinya cuma Top 40/Top 100 Billboard (hasil ngedonlot dari idws) dan K-Pop (ngakunya K-Pop, padahal ngertinya cuma lagu-lagunya YG Artist doang. Disebutin nama grup di luar YG juga keder :p). Dimulai dari mana? Dari youtube laaah.. Liat-liat video dari beberapa nama group yang keingetan (dan abis kesebut dalam obrolan sama Dudung), kaya WSATCC, KOC, Mocca, Frau, Sondre Lerche dll, dsb. Niatnya, sih, abis itu mau donlot album/lagu terbarunya. Tapi yang ada gue malah keterusan ngeyutub gara-gara nemu video ini
We Love A.B.C!!! Oh yeah, i do looooove them :D

Jadi, si We Love A.B.C ini adalah project pengenalan musik dari Ricky Virgana, personil WSATCC, ke anak-anaknya. Si dua anak kecil itu, Sisi dan Sachi adalah anaknya Ricky dan Mela-nya WSATCC. Manis banget yaaaa.. Sementara anak-anak seumuran mereka yang lainnya mungkin dengerinnya 1D, JB, Exo, atau bahkan Oplosan dan Kereta Malam *sigh*, Sisi dan Sachi dengerinnya udah Sondre Lerche, Kings of Convenience, The Smith, Yeah Yeah Yeahs!! Aaaaaak! Kalian beruntung, adik-adik! Beruntung karena orang tuanya punya selera musik bagus, dan bisa ngajarin main musik bagus juga. Aaaak! 8Tepok tangan kenceng buat Ricky dan Mea*

Lagi ya.

Satu lagi deh, my personal favorite


Cupcupmuah,
R

Friday, April 04, 2014

Akibat Ngintip Halaman Tetangga

Setelah gugling dan intip sana-sini, akhirnya gue memantapkan pilihan pada seorang caleg (untuk DPR-RI, DPRD, dan DPD) yang memenuhi kriteria yang udah gue tetapkan sebelumnya. Kalo diliat rekam jejaknya, Insya Allah bersih. Diliat cara kampanyenya kemaren-kemaren juga kayaknya ngga ngeselin kaya beberapa caleg lain. Ngeselin di sini maksudnya: nggak nempelin bendera segede dosa di pager rumah gw, nggak nempel-nempel foto di tembok rumah gue, dan nggak ngebayar ojek langganan gue buat ikut kampanyenya dia (yang membuat gue kehilangan transportasi andalan). Agak subjektif ya, biarin lah, hak gue juga kan ya :D

Nah, beberapa hari yang lalu gue sempet ngobrol sama seorang temen soal coblos-menyoblos ini. Gue cerita gimana 'niat banget'nya gue buat nyari tau tentang caleg-caleg ini. Gue ceritain bahwa di antara sekian banyak yang kampret, masih ada kok yang beres. Gue ceritain hasil penemuan-penemuan gue di internet. Dia yang awalnya niat ngerusak kertas suara aja (menggunakan hak suara tapi tetep golput), jadi tertarik tapi males nyari tau. Akhirnya gue bantuin deh nyari-nyari link yang bisa ngebantu dia. Oh, by the way, temen gue ini dapilnya DKI Jakarta 2, beda sama gue.

Nah, tiap kali gue nemu link nya, sebelum gue kasih ke dia, pasti gue baca dulu. Termasuk link video-video debat caleg yang akan gue kasih, gue tonton dulu. Eh kok ya ada satu nama yang nempel terus di otak gue. Kalo dibandingin sama caleg pilihan gue (yang dari dapil gue), kok ya kayanya sepak terjangnya lebih nyata ya. Hahahaha..

Ini yang dibilang orang sebagai "rumput tetangga selalu lebih hijau" nggak sih? Udah nemu jagoan di dapil sendiri, trus kepincut jagoan dapil tetangga. Hahahahaha..*jewer*

Thursday, April 03, 2014

PemiYUK!

Gimana? Udah pada nyari-nyari informasi soal Pemilu Legislatif 2014? Profil Caleg DPR-RI, DPRD, dan DPD? Bingung ngga? Bingung ya? Sammma dong :D

Daripada bingung berjamaah, pahalanya ngga jadi tujuh kali lipat kaya solat berjamaah juga soalnya, gue kasih link aja yaa.. Kebetulan tadi sambil nyari-nyari profil caleg idaman, nemu beberapa video yang mudah-mudahan bermangpaat :p

Oh iya, kemaren pas di rumah, sempet ngobrol sama Oma dan Mamah tentang cara nyoblos di Pemilu Legislatif 2014, tentang suara yang sah dan tidak sah. Sempet ragu-ragu pas ngejelasin ke Oma, karena guenya juga lupa hahaha.. Tapi untung ada video ini, jadi lumayan kebantu deh. Nah, siapa tau ada yang jarang nonton tivi kaya gue, trus lupa gimana cara nyoblos ;)


Oh iyaaa.. Buat yang males googling profil caleg satu persatu seperti yang sedang gue kerjakan sekarang, ada loh, website yang nyediain rekap berita para caleg ini. Bisa coba ke sini, sini, atau sini. Meskipun udah disediain gitu, tetep harus kritis ya, kalo perlu cari informasi dari sumber lain juga. Kadang suka burem mana yang opini dan mana yang fakta, jadi pinter-pinter cari informasinya. Yang jelas, kalo bisa jangan golput dong yaa.. :D


Yuk!
R

Tuesday, April 01, 2014

....

Jadi berapa posting yang berhasil gue bikin selama bulan Maret? Empat belas posting! Yeay! Selamat ulang tahun ke-14 kalo gitu yaaaa, Riaaa! -____-"

... and Happy April Fools Day!

....


Ermm... *milin ujung baju*

Iya iya.. Target posting bulan Maret cuma tercapai 50 persen doang. Sebel ya.. Abisnya aku sibuuuk.. Sibuk menyibukkan diri sendiri untuk hal-hal non-duniawi, seperti berkhayal, melamun, dan lain-lain :p

Tapi tapi tapii.. Sebagai pembelaan gue, empat belas posting dalam sebulan udah bagus banget loh. Ya kaaan.. Lumayan deh, buat modal rajin nulis lagi di bulan-bulan berikutnya :D

Baideveeeei, di posting yang ini, gw kan ngasih tau cara gue buat milih caleg tanggal 9 April nanti. Terus beberapa hari yang lalu gue baru ngeh, kalo tanggal 9 nanti, yang harus gue pilih bukan cuma caleg untuk DPR-RI doang! Haduuuh telat deh gue. Keburu ngga ya, buat riset nyari profil caleg DPD dan DPRD? >.<



Mari siap-siap jereng lagi,
R

Friday, March 21, 2014

Ciyeee.. (Bukan) Anak Sosmed..

Udah setahun belakangan, gue agak menarik diri dari twitter. Blas bener-bener ngga nge-twit dan ngga ngeliat timeline juga. Kenapa? Karena ngga tau passwordnya :D Hehehe..

Desember 2012, kalo ngga salah, gue memutuskan buat ngga twitteran sampe jangka waktu yang tidak ditentukan. Waktu itu, ceritanya, gue mau fokus skripsi. Gue menganggap twitter sebagai distraksi paling besar dalam penyelesaian skripsi gue, makanya gue stop dulu. Sebagai manusia yang selalu haus dengan berita-berita terkini (baca: gosip), twitter jadi sarana penyedia informasi paling besar, dong. Karena ketidakbijakan gue, pemakaian si twitter ini malah jadi sarana bikin dosa (ngegosipin orang, stalking twitter orang abis itu dighibahin, dll) dan jadi lebih sibuk ngurusin urusan orang daripada nyelesein urusan gue sendiri.

Beberapa kali pernah niat puasa twitter tapi kayanya ngga tahan lama-lama. Akhirnya, gue minta temen gue buat gantiin password twitter gue, terserah mau diganti password macam apa, suka-suka dia, pokoknya gue ngga tau. Setelah passwordnya diganti, gue ngga bisa buka twitter lagi. Berhasil dong niat puasanya.. Sebenernya, sih, kan bisa aja ya gue reset password, tapi alhamdulillah masih bisa ditahan godaannya :D

Awalnya, sih, berhasil ya.. Tiga bulan pertama, walaupun bagaikan ikan dikeluarin dari air (megap-megap karena ga update gosip) tapi ternyata gue bisa idup, sodara-sodaraaa :))) Bulan-bulan berikutnya sampe hari ini, masih agak kurang update juga sih, tapi ya ternyata aliran gosip bisa datang dari mana sajaaa, terutama dari orang-orang terdekat hiahahaha.. Tujuan mulia ngga twitteran demi menghindari perghibahan tentu saja: GAGAL TOTAL.

Nah, daripada mubadzir pengorbanan gue puasa twitter, mending gue bahas aja seberapa besar perubahan hidup gue orang lain setelah melihat gue ngga twitteran selama setahun.

Ternyata lumayan besar, mak! Gue jadi lebih... transparan di mata orang-orang. Please note the sarcasm, ya. Dalam bahasa sederhananya: gue kaya ditelan bumi, ngilang, isgon, tidak ditemukan. Yuhuuuuu..

Contoh, kalo lagi ke nikahan temen, trus ketemu temen-temen lainnya kejadiannya pasti gini:
Temen A: "Ya ampun, Riaaaaa.. Kemana aja lo, kok ngga pernah keliatan?"
Temen B: "Riaaaa.. Kok ngga pernah ngetwit lagi, udah berpindah ke path ya? Path lo apa, sih? Kita belom temenan di path, ya?"
Temen C: "Duuh sombong nih sekarang, sibuk ya, ngga ada kabar-kabarnya lagi.."
Temen D: "Ciyee.. Anti-mainstream nih, ceritanya? Ngga sosmed-an lagi?"

Ya ampuuun.
By the way, gue ngga pake path, ya. Jadi... ya tetep dinilai 'kurang beredar', lah.

Jadi, karena ngga ada di twitter, berarti dia ngga keliatan, pindah ke platform socmed lain, sombong, dan..... anti-mainstream?* Gitu, ya?

Padahal, ya, kalo mau tau kabar kan sebenernya bisa telepon, sms, kirim surat lewat burung dara juga bisa, kan? Ya atau yang agak kekinian: kan bisa whatsapp atau line, atau email deh. Atau, samperin! Pernah ada yang bilang ngeliat gue di suatu tempat, tapi pas di-mention via twitter ngga ngejawab, jadi babay deh. Lah??

Segitunya, ya?
Iya. Segitunya.

Yang berasa banget sih, ya, baru-baru ini deh. Ehem. Pas ulang tahun. Kayanya, waktu gue masih 'eksis' di twitter, yang ngucapin cuma beberapa, tapi yang nebeng pake RT banyak. Jadi berasanya banyaaak banget yang inget sama ulang tahun gue. Sekarang? Huuu boro-boro. Eh ga boleh gitu ya, tetep harus bersyukur ya kalo lagi ulang tahun. Eh alhamdulillah teman dan keluarga terdekat masih pada inget ulang tahun gue. Ngga banyak, sih. Tapi alhamdulillah masih ada yang ngedoain ngga pake basa-basi, gitu kan, ya? :D

Eh tapi, sebenernya gue kangen loh, diucapin selamat pake kartu yang ditulis sendiri pake tulisan tangan si pemberi ucapan. Kayanya lebih tulus, gitu.. (Ciyee.. Tulus.. Sewindu doong :)) )

Ini di blog ngga ada yang mau ngucapin selamet nih? *tolak pinggang*nodong kado*


Terimakado,
R

* Kalo kata Fico, ketika semua orang mengklaim dirinya sebagai anti-mainstream, ya berarti udah jadi mainstream dong. Jadi kalo mau beneran anti-mainstream, ya balik ke mainstream lagi aja :)) *lieur, teu?*

P.S: ini kok di depannya ngebahas sosmed, ujung-ujungnya minta diucapin slamet dan minta kado? Huahahaha :)))

Novel VS Film

Beberapa hari yang lalu, liat foto yang diupload sama Ika Natassa di instagramnya: foto teaser film Antologi Rasa. Maaaak! Antologi Rasa beneran mau dijadiin film? Sebagai #TeamHarris (jamaah halu-nya Harris Risjad), gue antara girang dan was-was. Girang karena bisa liat visualisasi bentuk Harris Risjad, si pria seksi idaman wanita muda se-timeline-nya dia :p (abisnya, mau bilang se-Indonesia, takut digebukin sama #TeamRully). Was-was karena takut kalo yang jadi Harris ternyata mengecewakan karena ga sesuai khayalan babu gue selama ini.

Sebenernya kekhawatiran tiap kali ada novel yang dijadiin film ini seringkali terbukti, sih. Gue, dengan khayalan gue yang babu banget ini, hampir selalu kecewa kalo nonton film yang diangkat dari novel favorit gue. Tapi tuh, gw jadi kaya masokis film yang diangkat dari novel: udah tau bakal sakit ati kecewa sama filmnya, tapi ya tetep keukeuh pengen nonton.

Kalo ada godaan untuk nonton film adaptasi novel dan gue belom baca bukunya? Oh tentu saja, bagaikan masokis cinta, gue akan beli beli bukunya, baca sampai selesai, trus ke bioskop. Kecewa lagi? Tentu saja!

Contoh? Hmm.. Perahu Kertas, Rectoverso, 5cm, Kambing Jantan dan teman-temannya (Cinta Brontosaurus, etc), Laskar Pelangi dan lanjutannya, Habibie & Ainun, dan banyak lagi.

Eh tapi itu cuma yang Indonesia doang ya? Yang luar juga banyak yang bikin kecewa, cuma yaa ga sekecewa yang di Indonesia, sih. Twillight Saga, Harry Potter, film-film yang diangkat dari novelnya Dan Brown, Eat Pray Love, Bridget Jones Diary, dll.

Kebanyakan, sih, mengecewakan buat gue karena film-film tersebut ngga memasukkan adegan-adegan favorit gue di novelnya. Iya.. Itu kan preferensi pribadi, ya. Makanya, seringkali penilaian gue soal film-film ini ngga sesuai sama review yang dikasih sama orang-orang.

Eh, tapi, ngga tau kenapa ya, kalo dibandingin antara novel Indonesia yang diangkat ke film dengan novel luar yang diangkat ke film, gue lebih kecewa nonton film Indonesia. Enggaaaa.. Bukan sok menggadang-gadangkan kerennya film Hollywood dan teknologi mereka yang ciamik banget. Tapi.. Kenapa ya? Mungkin karena, menurut gue, film maker Indonesia (atau atas keinginan penulis novelnya?) kadang kayak mau 'membedakan' antara film dan novelnya banget *haloooo Perahu Kertas!*.
Padahal, kalo menurut gue sih, dengan jumlah pembaca yang ribuan bahkan jutaan, berarti mereka  suka dengan cerita novelnya. Ngga usah diubah dengan alasan biar beda atau biar pembaca ngga bosen. Yang bikin kami (si pembaca novel) mau datang ke bioskop dan nonton filmnya, ya, karena kami udah suka sama cerita di novelnya. Ngga usahlah, dibuat jadi ada kejutan-kejutannya.. Salah-salah, jantungan orang gara-gara kelewat terkejut (iya, ngga mungkin sih ya..).

Tapi kesel, ya, udah tau bakal kecewa tapi begitu denger berita kalo novel favorit bakal diangkat ke layar lebar, tetep aja loh gue bela-belain nonton.. Cih. Dasar..

Beklaaah.. Posting kali ini, gue tutup dengan link Novel Indonesia yang akan diangkat ke layar lebar di tahun 2014. Yuk, yang mau siap-siap kecewa berjamaah sama gue silakan dirapatkan shafnya.. :)))
Cupcupmuah,
R

Posting Yang Hampir Membuat Gue Ketahuan Umurnya :p **

Siapa di sini yang anak 90-an? *ngacung sendri*
Siapa yang bilang lagu-lagu tahun 90-an udah ketinggalan jaman? *siap-siap mentung pake kemoceng*

Ya kalo ngomongin teknologi yang dipakai untuk memproduksi lagunya, sih, iya lah ya..
Tapi, belakangan gue lagi sering banget masang lagu-lagunya P-Project (sebagai kompensasi ngga nonton mereka di JJF kemaren, hiks) yang diproduksi tahun 90-an. Terus, kalo didenger liriknya, kok ya masih relevan sama keadaan sekarang loh.

Salah satunya ini,

Kubaca koran dan terlihat
Kebakaran yang hebat
Api menjilat-jilat
Orang utan pun minggat
Asap pun melangit
Bikin ASEAN panik
Katanya akibat industri kayu..

Asap hitam banyak abu
ang merusak paru-paru
Asap hitam di hutanku
Bikin kita jadi malu
Orang utan rawat inap
Hampir mati tak dilayat
Jangan kau salahkan kemarau
Oh kemarau
Yang gersang

Asap Hitam - P Project

Lagu ini ada di album Jilid 4-nya P-Project yang keluar di tahun 1998. Enam belas tahun yang lalu dan masih mirip sama kondisi sekarang.

Enam belas tahun yang lalu, tahun 1998. Berarti udah berapa kali ganti presiden, sodara-sodaraaaaa? Empat kali ganti presiden ya, adik-adik.. Tapi urusan asap gara-gara kebakaran (atau pembakaran?) hutan masih aja jadi masalah, ya..

Atau di lagu ini,

Itu bukan soal yang kecil
Sering kali listrik menjadi, ooo
Faktor pemborosan


Apalagi tarifnya naik
Listrik harus dijaga baik

Tuk pemakaiannya
 

Itu listrik terbukti jadi lebih irit
Bila bohlam diganti neon (inah!)

Padamkan lampu bohlamnya
 

Kirain lagi pada ngomongin apa
Taunya beda bohlam dengan neon (inah!)

Gunakanlah slalu: lampu neon!

Hemat biaya (Lampu Neon) - P Project

Liriknya kurang kena, kali ya, kalo di zaman sekarang. Tapi tema besar soal dunia perlistrikan (aduuuh ini kosakata macam apa lagi, sih, Ri?) di Indonesia-nya masih nyambung lh ya..

Lagu ini ada di album Jilid 2 nya P-Project yang rilis tahun 1992. Gue baru lahir masuk TK, tapi gue inget pada saat itu lagi digadang-gadangkan slogan "Hemat Energi, Hemat Biaya" lewat iklan layanan masyarakat.

Dua puluh dua tahun kemudian, hari ini, tahun 2014... Temen-temen yang di Medan masih sering ngeluh mati lampu. Padahal, kalo diliat dari sini, sejak tahun 1992, PLN udah delapan kali ganti Dirut, yaa..
Satu lagi, deh..
Laris manis tanjung kimpul

Karcis habis Prancis makmur

Berprestasi dan berbisnis

Dua sisi sangat manis



Kita Indonesia gak ikut kesana

Jadi peserta piala dunia

Lebih menderita karna huru-hara

Liga Indonesia tidak berdaya

Tidak berdaya…



Bol bola (jadi bete bete)

Gol gol gol (jadi kage ade)

Atlet bola (jadi pada memble)

Pe Ha Ka (nganggur-nganggur aje)

......

Rencananya Indonesia

Kan menuju pentas dunia

Bagaimana itu bisa

Liga saja tidak ada



Apa sepakbola mirip bank swasta

Tak bermodal lagi dilikuidasi

Mending merger saja dengan binaraga

Agar atlet bola bisa perkasa
.....
Lagunya Lagu Bola - P Project

Lagu ini dibikin dalam rangka menyambut Piala Dunia 1998 di Perancis. Kurang lebih keadaan persepakbolaan kita sekarang masih sama, ya ngga sih? Ya sekarang (Alhamdulillah) udah ada liganya, sih. Tapi ya gitu, tetep ngga kompak si PSSI nya. Ah sebenernya gue ngga ngerti juga sik, soal sepak bola*. Cuma tau gambaran besarnya aja soal persepakbolaan di Indonesia, kayanya sih ngga jauh beda sama tahun 1998 seperti yang dibahas di Lagunya Lagu Bola, ya. Padahal, kalo diliat-liat (ceritanya biar formatnya sama kaya pembahasan lagu-lagu sebelumnya) udah berapa kali ganti Menpora? berapa kali ganti ketua PSSI? Tapi mudah-mudahan sih mulai ada titik terang ya, dengan prestasi U-19 nya kemaren ini :D

Coba, lagu 90-an yang mana lagi yang masih relevan sekarang? :)


R


*Asli ini mah, gue-nya ngga ngerti sepak bola sama sekali, sok banget mau ngebahas. Ampun yaaa, jangan diomelin ;D
** Posting yang ini berasa banget tuanya, ya.. Padahal tadinya udah mau ngaku-ngaku anak tahun 2000-an dengan sok jadi penggemar 1D, sm*sh, dan CJR :))))

The Cats

Tepat di saat gue udah bingung mau nulis apaan lagi buat posting di blog, gue dapet obrolan ajaib dari si Ivan. Jadi, buat posting kali ini, gue harus berterima kasih sama Ivan. Ini anaknya pasti girang banget dalam sebulan udah tiga posting di blog gue yang nyebut namanya.

Berawal dari diskusi tidak ilmiah tentang proses pembentukan bumi, evolusi makhluk hidup, cerita kapal Nabi Nuh, berlanjut ke peradaban Turki, dan berakhir dengan gue dimakan macan di Nepal. Iya. Segitu ngga nyambungnya.

Depannya, sih, oke banget ya tema bahasannya. Semacam judul-judul dokumenternya Harun Yahya yang sering diputer pas jaman SMA. Belakangnya yang ngga enak: gue dimakan macan di Nepal. Kalo dibikinin dinamikanya mah, ngga bakal bisa nyambung. Tapi ya gitu kalo gue udah ngobrol sama si Pandolita, kutub Utara ama Selatan bisa dibikinin jembatan imajiner alias bisa aja gitu nyambung-nyambunginnya.

Eh, sampe mana tadi? Oh, gue dimakan macan di Nepal, ya?

Terus gue nanya, "Macan apa Harimau, nih?". Menurut dia, macan sama harimau ya sama aja. Terus obrolannya jadi bergulir serius. Dia keukeuh kalo macan sama harimau itu sama, gue sebagai pecinta kucing ga terima kalo mereka disama-samain *halah*. Pertanyaan pun dimpar ke social media(nya dia). Gue? Karena internetnya lagi isdet, gue menjawab tanpa bukti ilmiah lah ya, jadi cuma berdasarkan ingatan dan.. ke-keukeuh-an gue *apa pula ke-keukeuh-an* :D Menurut gue, harimau itu tiger: loreng-loreng kaya Tiger temennya Winnie the Pooh, sedangkan macan itu leopard: totol-totol kaya motif baju-bajunya Syahrini :D

Tapi yang namanya debat kusir sama Pandol, ngga akan berhenti kalo dia belom menang. Gue ngga tau, sih, dia emang se-ngga mau kalah itu sama semua orang apa sama gue doang, sih? Kayanya sama gue doang ya? Sombong dan pamernya juga kayanya cuma sama gue doang. Sial!

Menurut dia, kalo memang macan adalah leopard, trus kalo macan kumbang apa dong? Leopard beetles? :))))

Akhirnya, sih, si Ivan mengakui kalo macan dan harimau itu beda. Dan gue akan dimakan oleh macan di Nepal. Bukan harimau. Selesai.

Anyway, sebenernya debat kusir kami soal Macan vs Harimau ini ngga perlu banget ya.. Jikalau saja (cieeh jikalau) salah satu dari kami langsung googling perbedaan Harimau dan Macan. Gue nyoba googling (setelah internetnya idup), dan langsung ketemu beberapa link, di antaranya ini, ini, dan ini.

Tapi ya sutralah yaa.. Kalo ga ada debat kusir, gue mungkin masih bingung mau nulis apa lagi buat ngejar target nulis di bulan Maret :)))

Demikian,
R

Postingan Ke...

......lewatan beberapa hari :p

Ini baru postingan ke berapa sih?
Ampoooooon deh. Giliran lagi dikejar target posting blog, internetnya mati, koit, isdet. Ngga tanggung-tanggung, matinya seminggu! Setelah diinget-inget dan dicek, ternyata belom bayar. Huahahaha..

Oh, dan sebagai pembelaan, tadinya mau ngeblog via aplikasi di smartphone. Ternyata ngga enak! Udah pegel ngetik, pas mau dipublish sinyalnya bapuk... dan NGGA KESIMPEN! Hih! Keshel!!

Jadi, mari kita cicil ketinggalannya dengan... posting bererot! Yeay! Eh pada tau bererot ngga, sih? Bukaaaan! Bukan ber-erot as in Mak Erot ya. Maksud gue, borongan gitu, lah. Berturut-turut! Nah! :)))


Yuuk, sebelum mulai nyicil, liat video dulu, asik kali ya..

Gue pertama kali denger lagu ini di acara suaminya, Pandji. Gue lupa di mana, di salah satu mall di Jakarta pokoknya. Dan ternyata, kemaren official music videonya baru keluar kemaren di Youtube. Suka deh sama Bayu Risa video-nya.. Seru aja gitu reramean ;) Well, enjoy the video :)




R

P.S: Kebaca ngga, sih, kalo ini postingnya basa-basi banget demi mengejar target posting? Ha! Ha! Ha! *dipentung*